Senin, 16 April 2012

Paragonimus westermani


Trematoda
Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermedier untuk perkembangannya. Fase daur hidup tersebut adalah sebagai berikut:
Telur---meracidium---sporocyst---redia---cercaria—metacercaria---cacing dewasa.

Genus dari trematoda
(1)  Schistosoma
(2)  Paragonimus
(3)  Clonorchis
(4)  Echinostoma

Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan sebagai berikut:
1)    Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
2)    Trematoda paru: Paragonimus westermani
3)    Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma revolutum, E. ilocanum
4)    Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantic .

Paragonimus westermani
Pertama ditemukan berparasit pada harimau Bengali di kebon binatang di Eropa tahun 1878. Pada dua tahun kemudian infeksi cacing ini pada manusia dilaporkan di Formosa. Ditemukan cacing pada organ paru-paru, otak dan viscera pada orang di Jepang, Korea dan Filipina. Sekarang parasit ini telah menyebar ke India Barat, New Guenia, Salomon, Samoa, Afrika Barat, Peru, Colombia dan Venezuela. Paragonimiasis termasuk dalam penyakit zoonosis. Paragonimus westermani merupakan Trematoda paru-paru yang mempunyai beberapa nama lain, yaitu:
·         The Lung Fluke
·         Distoma wetermani
·         Paragonimus ringeri
Trematoda paru jenis ini menyebar didaerah Asia Timur, antara lain RRC, Jepang, Korea, Taiwan, juga ditemukan di Indonesia, Filiphina, Vietnam, India, Afrika dan Amerika.
Species-species yang lain adalah:
·         Paragonimus africanus  (Afrika)
·         Paragonimus mexicanus (Mexico dan Amerika Latin)
·         Paragonimus uterobilateralis (Nigeria)
·         Paragonimus kellicotti (Jepang)
HOSPES
Hospes definitif : Manusia, kucing, anjing
Hospes perantara I : Keong air tawar/ siput (Melania/Semisulcospira sp)
Hospes perantara II : Ketam / kepiting
HABITAT: Di jaringan paru-paru

PENYAKIT:  Paragonimiasis

MORFOLOGI:
Telur:
Telur berukuran 80-120 x 50-60 mikron
Bentuk oval
Memiliki operculum khas yang berdinding tebal
Berwarna kuning kecoklatan
Berisi sel-sel ovum yang belum matang

Cacing dewasa:
Bersifat hermaprodit.
Sistem reproduksinya ovivar.
Bentuknya menyerupai daunberukuran 7 – 12 x 4 – 6 mm dengan ketebalan tubuhnya antara 3 – 5 mm.
Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.Uterus pendek berkelok-kelok.Testis bercabang, berjumlah 2 buah.
Ovarium berlobus terletak di atas testis.
Kelenjar vitelaria terletak di 1/3 tengah badan.

SIKLUS HIDUP
Telur dikeluarkan bersama feses . Telur yang masuk dalam air akan menetas mirasidium akan keluar dan mencari hospes perantara pertama yaitu keong air (siput Bulinus / Semisulcospira). Dalam tubuh keong mirasidium berkembang menjadi sporokista dan kemudian menjadi redia. Redia akan menghasilkan serkaria. Serkaria akan akan keluar dari tubuh siput dan mencari hospes perantara ke-2, yiatu ketam/kepiting. Setelah masuk ke tubuh kepiting, serkaria akan melepaskan ekornya dan membentuk kista (metaserkaria.) didalam kulit di bawah sisik. Metaserkaria akan masuk ke tubuh manusia yang mengkonsumsi kepiting yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang.Metaserkaria akan mengalami proses ekskistasi di duodenum dan keluarlah larva. Larva menembus dinding usus halus rongga perut diafragma menuju paru –paru.

                                                                                                                                               
CARA INFEKSI:
Manusia dapat terinfeksi oleh Paragonimus westermani karena memakan hospes perantara II yang mengandung metaserkaria.

PATOLOGI dan GEJALA KLINIK:
Penyakit akibat infeksi cacing ini dinamaan Paraginiasis. Selama invasi hanya memberi sedikit gangguan. Cacing dewasa dapat memberi gangguan di:
Paru-paru:
§  Berupa kerusakan jaringan
§  Tampak juga infiltrasi sel jaringan
§  Reaksi jaringan membentuk kapsul fibrotik (kista), di dalamnya terdapat cacing dan juga telur, jika kista ini berada di bronchus maka akan dapat pecah. Gejala mula-mula batuk kering, kemudian batuk darah.
Ektopik infeksi:
Telur-telur yang berada di jaringan organ merupakan pusat dari pseudo tuberculosis (TB palsu).
·         Di otak = gejala cerebral (epilepsi)
·         Di usus = abses dengan gejala diare
·         Di jaringan otot = ulcersa
·         Di hepar, dinding usus, pulmo, otot, testis, otak, peritoneum, pleura terdapat bentuk kista
DIAGNOSA: 
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam sputum atau cairan pleura. Kadang-kadang telur juga di temukan dalam tinja.

PENGOBATAN:
Klorokuin 0,75 gr/hari sampai 40gr bhitional.

PENCEGAHAN:
Tidak memakan ikan/kepiting mentah. Apabila menkonsumsi harus sudah dimasak secara sempurna sehingga tidak terinfeksi oleh metaserkaria yang ada dalam ikan/kepiting tersebut.
           
                                                                                                                         
Cacing dewasa Paragonimus westermani
 
metaserkaria












Telur                                                    

0 komentar:

Poskan Komentar